Keliling Kota Naek Cable Car? Yuk!

Beberapa hari yang lalu di kantor ada presentasi dari vendor Cable Car asal Austria, Doppelmayr. “World’s biggest and the leader in cable car”, begitu klaim mereka. Materi presentasinya eye and mind opening banget. Beberapa highlight presentasi mereka akan saya share di sini. Kalo mau baca brosurnya, klik link ini.

Pertama kali yang terbayang kalo mendengar Cable Car adalah kereta gantung yang ada di tempat-tempat wisata, ancol atau taman mini misalnya (walopun saya belum pernah nyoba keduanya). Sekali-kalinya nyoba cable car tuh waktu di Hongkong, tepatnya di Ngong Ping 360. Bagus yang ini mah, nyeberang laut dan mendaki gunung.

Nah salah satu hal yang paling menarik dari presentasinya adalah fakta bahwa cable car itu sekarang bisa memuat sampai 38 orang. Wow! Itu jumlah yang sama dengan yang bisa muat di bus sedang. Selama ini saya taunya paling banter cable car itu muat maksimum 4-6 orang. Ini poin menarik. Dengan kapasitas ini cable car bisa melayani 10.000 penumpang per jam bolak balik atau 5.000 penumpang per arah per jam. Jumlah ini setara dengan 2.000 mobil pribadi dan 100 bus kota. Angka yang sama cukup dilayani oleh 1 cable car. Iya satu!

Selain itu, mereka mengklaim bahwa sistem cable car ini bisa lebih murah dan lebih cepat dibangun ketimbang LRT atau MRT. Sistem cable car ini diklaim bisa lebih murah 4x dibandingkan dengan LRT. Apalagi dengan MRT yg investment costnya mahal. Tapi tentu LRT dan MRT menawarkab kapasitas angkut yang lebih besar pula.

Sistem ini juga bisa dibangun lebih cepat. Poin ini menurut saya penting di Indonesia. Kenapa? Begini, karena di Indonesia masa jabatan kepala daerah yang satu periodenya cuma 5 tahun, membutuhkan satu ‘bukti nyata’ hasil kerja mereka. Ini penting sebagai bukti kalo mau dibilang sukses dan bisa nyalon lagi untuk periode kedua. Sebagai perbandingan coba lihat MRT yang dari jaman Sutiyoso, Foke, Jokowi, sampe Ahok belum jadi-jadi. Mereka yang memulai ngga bisa menikmati saat sistemnya full beroperasi. Istilahnya yang susah-susah siapa, yang dapet apresiasi siapa. Hal ini lumrah di Indonesia bukan? Jadi kalo pake cable car ini, sistemnya bisa terealisasi sebelum periode mereka selesai. Bisa buat modal kampanye periode berikutnya kan? hehe

Keunggulan lain cable car ini adalah foootprintnya yang kecil, untuk tiang penyangga hanya butuh sekitar 2 m x 2 m. Bentangan antar tiang bisa mencapai 1 km, walaupun bisa sampai 5 km tergantung ketinggian tiang dan kondisi medan. Bisa juga diintegrasikan ke bangunan/gedung, jadi ga perlu bikin lahan yang khusus buat stasiun. Cuma gedungnya harus diperkuat strukturnya karena gaya lateral/horizontal yang terjadi cukup besar. Jangan sampai ntar gedungnya miring ketarik cable car.

Studi kasus cable car ini ternyata sudah banyak di dunia. Tapi mungkin yang paling mirip sama kondisi sosial ekonomi kita ada di Caracas (Venezuela) dan La Paz (Bolivia). Di negara-negara tersebut, cable car digunakan untuk menjamin konektivitas favela-favela atau perkampungan yang ada di perbukitan. Jadi penduduk ga perlu jauh-jauh dan bermacet-macetan untuk berpindah tempat. Cable car di sana dihubungkan dengan sistem BRT dan angkutan umum lainnya sehingga sistem ini menjadi satu kesatuan sistem transportasi kota. Cable car ini menjawab last mile problem yang sering menjadi masalah bagi transportasi khususnya di negara berkembang.

Dari sisi pariwisata, cable car ini bakal jadi salah satu cara menikmati kota dari ketinggian. Bayangkan misalnya ada cable car yang melintasi Kebun Raya Bogor atau melintasi gedung-gedung perkantoran di Jakarta, pasti seru kan ‘terbang’ dengan pemandangan seperti itu? Wisatawan pasti seneng banget dikasih yang beginian, ujungnya pendapatan daerah akan bertambah tho?

Kesimpulannya, cable car ini menurut saya cocok untuk diaplikasikan di kota-kota padat penduduk di Indonesia. Hal-hal seperti pembebasan lahan yang kerap jadi masalah pengembangan transportasi di Indonesia bisa dieliminasi dengan sistem ini. Selain itu, biaya pembangunan sistem ini yang diklaim lebih murah tentunya cocok dengan kondisi negara kita yang ekonominya sedang berkembang. Kalopun ada investor, setidaknya bayar cicilannya ga besar-besar amat gitu. Sistem cable car ini bisa menjadi transisi dari transportasi tradisional kita menuju ke sistem transportasi massal yang lebih modern seperti LRT dan MRT. Kota-kota seperti Bogor, Bekasi, Bandung sebaiknya melihat moda ini sebagai salah satu alternatif transportasi perkotaan.

aryo kuncoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *