Karnaval Hari Jadi ke-533 Kota Bogor

Sabtu, 30 Mei 2015 kemarin, di Bogor diadakan Helaran Hari Jadi Bogor ke-533. Salah satu acara yang diadakan adalah pawai budaya atau karnaval budaya. Karnaval ini diikuti oleh ratusan peserta yang datang dari Bogor maupun dari luar Bogor. Acara yang digelar mulai pukul 2 siang hingga pukul 5 sore ini sukses menarik perhatian warga Bogor. Terbukti dengan ramainya jalan-jalan yang dilalui karnaval ini dan juga macetnya jalan-jalan lain yang kena imbasnya. Karnaval budaya ini dimulai dari GOR Pajajaran, melewati Jalan Ahmad Yani, Jalan Sudirman, dan finish di Lapangan Sempur.

Ini beberapa foto yang saya jepret:

Sejak pukul 2 siang warga sudah berkerumun di Jalan Jend. Sudirman, mulai Yogya Bogor Junction sampai Air Mancur. Ruas jalan ini menjadi pusat keramaian massa yang ingin menyaksikan karnaval. Tapi sayangnya ketika warga sudah berkumpul jalan belum ditutup sempurna, sehingga beberapa kendaraan bermotor masih bisa lewat. Hal ini membahayakan pejalan kaki dan warga yang berkumpul.

Selain itu, pengaturan massa yang ingin menonton karnaval juga tidak diatur dengan rapi. Tidak ada pembatas yang memisahkan antara penonton dengan iring-iringan massa. Hal ini menyebabkan dalam perjalanannya, karnaval sempat beberapa kali terganggu oleh kerumunan massa yang menutup jalannya. Selain itu, warga juga tidak disiplin dengan berdiri, berfoto atau berjalan terlalu dekat dengan rombongan karnaval.

Terlihat dalam gambar di atas barisan motor polisi sebagai ujung pembuka jalan karnaval harus lewat sangat dekat dengan warga. Rombongan di belakangnya pun tersendat karena warga berdiri terlalu dekat.

Walikota Bogor Bima Arya

Walikota Bogor, Bima Arya, mengikuti karnaval dengan menaiki kuda. Ada yang unik dengan ‘kloter’ pasukan berkuda Bima Arya ini, kloter yang terdiri dari sekitar 5-8 kuda yang ini adalah salah satu peserta karnaval yang melintas pertama kali. Setelah melintas di depan Bogor Permai dan sampai di depan Gerbang Istana Bogor, kloter ini balik lagi ke arah Air Mancur. Sontak saja kloter ‘pulang pergi’ ini membuat bingung warga. Mungkin Pak Bima ketinggalan sesuatu di GOR jadi balik lagi.. :p

Karnaval jalan terus, online di hape juga tetep harus jalan terus.

Ada ikan jadi-jadian yang ikut karnaval juga.

Salah apa anak-anak ini hingga dilumuri lumpur sekujur tubuhnya. :p

Mungkin ini prototipe apparel penyapu jalan, jadi bisa nyapu horizontal dan juga vertikal di kiri-kanannya.

Peserta karnaval ini abis makan apa ya kira-kira?

Lengser. Cape banget kayanya pak?

Anak ini ngeh banget mau difoto, jadi dia sempet liat saya, liat kamera, dan jepret. Gotcha!

Dancing Boboko

Dua foto di atas ini tentang peserta karnaval yang paling heboh, paling aksi dan responsif ke kamera penonton. Kalo memang konsep karnavalnya adalah membuat batas yang cair antara peserta karnaval dan penonton, maka interaksi-interaksi seperti ini yang harusnya terjadi lebih banyak. Sehingga penonton dan peserta karnaval dapat dikemas menjadi kesatuan aksi panggung.

Overall, menurut saya karnaval Hari Jadi Bogor tahun 2015 ini cukup meriah walaupun tentunya masih ada ruang untuk berbenah diri yang sangat lebar. Beberapa catatan saya antara lain:

  • Tema ‘Payung’ yang dijadikan salah satu tema utama dalam perayaan Hari Jadi Bogor 533 ini kurang terasa dalam karnaval. Ornamen payung yang dipasang oleh Pemkot terkesan malu-malu di jalanan Bogor. Apalagi penggunaan elemen payung ini sudah pernah dilakukan di Portugal dan pernah dicoba untuk diulangi di Bandung pada waktu yang tidak terlalu jauh kemarin. Sehingga orang akan dengan mudah membandingkan keduanya. Sayangnya, menurut saya penerapan di Bogor masih kalah kelas dibandingkan dengan dua penerapan yang telah ada dalam hal detail dan eksekusi.
  • Waktu pelaksanaan. Siang jam 2 itu panas, jenderal! Kemarin di Bogor saya lihat data cuaca menunjukkan cuaca cerah dan UV Index 7 (High). Emang kerasa banget sih panasnya terik banget. Mungkin lebih nyaman jika karnaval ini diadakan pagi hari, memanfaatkan udara sejuk Bogor dan juga menghindari ‘hujan rutin’ tiap sore.
  • Pembagian zona. Sebaiknya ada batas area yang jelas antara area penonton dan area performer. Batas ini bisa berupa pagar atau tali untuk membatasi area penonton. Adanya batas ini bertujuan agar pergerakan performer tidak terganggu oleh kerumunan warga yang terus merangsek ingin mendekati (dan selfie dengan) rombongan.
  • Sterilisasi jalan. Jalan yang tidak 100% steril dari kendaraan bermotor membuat masih banyaknya motor/mobil yang melintas. Ini membahayakan bagi penonton yang berjalan kaki, apalagi banyak anak-anak yang juga menonton acara ini. Sebaiknya sterilisai jalan utama dilakukan 30 menit sebelum acara dimulai, sehingga masih memberikan kesempatan untuk warga yang akan melintas di jalan tersebut.
  • Interval antar ‘kloter’. Interval antar kloter karnaval terlalu lama dan jarak antar kloter juga terlalu jauh. Dampaknya adalah antusiasme penonton semakin lama semakin menurun (ga klimaks). Saya juga sekitar jam 4.30 sudah mulai bosan karena semakin sore temponya semakin lambat dan akhirya memutuskan pulang.
  • Gong! a.k.a puncak acara. Tempo dan interval yang terlalu lambat tadi menjadikan karnaval ini tidak terasa puncaknya (atau memang tidak ada?). Menurut saya acara ini terlalu datar dan karnavalnya kurang semarak. Walaupun saya baca di Radar Bogor keesokan harinya, ternyata ada acara lain sebagai penutup karnaval ini di Lapangan Sempur. Tapi tidak semua orang tahu bahwa akan ada acara ini (PR issue?).

Itu adalah beberapa poin masukan saya untuk Karnaval Bogor di Hari Jadi Bogor yang ke-533 ini. Semoga tahun depan Karnaval di Bogor bisa lebih semarak, lebih meriah, dan momentum ini benar-benar bisa dimanfaatkan untuk mengembalikan Bogor kepada urang Bogor anu Bogoh ka Bogor!

Wilujeng Milangkala Bogor anu ka 533,

Aryo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *