ngeBolang di Shanghai Airport

20 Maret 2015, Shanghai

Pesawat saya mendarat di Shanghai pukul 06.00 tepat setelah melakukan perjalanan 5 jam dari Singapore. Pagi itu Shanghai hujan disertai langit kelabu, pemandangan yang terlihat dari jendela pesawat saat approach cuma lahan-lahan pertanian ditutupi kabut, jalanan yang masih sepi, serta air hujan yang mengalir cepat membasahi bagian luar jendela pesawat. Syahdu banget lah, sayang sendirian. Eh curcol.

Touch down! Saya mendarat di Terminal 2 Shanghai International Airport, di Pudong. Terminal yang utamanya digunakan oleh Air China dan member Star Alliance ini adalah terminal paling baru di Shanghai Pudong International Airport. Jadi karena saya naik Singapore Airlines, salah satu member Star Alliance, maka ya dapet jatah nyicip Terminal 2 ini.

Kesan pertama saya saat mendarat adalah terminalnya gede banget, bersih, dan ga kayak China yang saya bayangin dengan analogi yang sama kalo orang sering nyebut ‘hape China atau mobil China’. Ini benar-benar modern, keren, dan bersih. Kesan keren itu terutama saya dapat saat saya naik ke level departure, di sini kita bisa melihat plafond atap terminal yang dibuat melengkung, berwarna cokelat-emas, dan dilengkapi skylight yang gede-gede. Terminal yang didesain oleh arsitek Richard Rogers ini mulai beroperasi tahun 2008 dan memiliki kapasitas 60 juta penumpang per tahun, kurang lebih tiga kali kapasitas awal Terminal 1 ditambah Terminal 2 Soekarno Hatta International Airport di Jakarta. (T1 awalnya berkapasitas 9 juta penumpang/tahun dan T2 18 juta penumpang/tahun)

Sesuai itinerary yang saya susun, saya punya waktu sampai jam 9 untuk menjelajah airport ini. Kenapa harus jam 9? Karena saya pengen naik kereta Maglev dengan kecepatan yang paling tinggi yaitu 430 km/jam. Perjalanan Maglev dari Shanghai Pudong ke Longyang Rd. Station dengan full speed ini hanya terjadi 2 kali dalam sehari, yaitu pukul 9.00 dan pukul 15.00. Jadi kalo saya kelewat kereta yang ini, kesempatan saya hanya ada pukul 15.00. Catatan mengenai kereta Maglev ini akan saya bahas di post berikutnya.

Dengan 3 jam waktu yang saya punya di airport, saya masih bisa santai menjelajah airport ini. Pertama yang saya lakukan adalah menjelajah Terminal 2 sambil foto-foto. Pagi itu terminal ini sudah sangat ramai, memang benar kalo orang China itu ternyata banyak banget. Selesai explore terminal 2, saya jalan kaki menggunakan terowongan yang menghubungkan antara terminal 2 dan terminal 1. Walaupun jaraknya cukup jauh, tapi karena ada travelator dan desain koneksinya bagus jadi ngga kerasa. Tiba-tiba saya sudah sampai di terminal 1. Selain jalan kaki, perpindahan antar terminal ini juga bisa menggunakan free shuttle bus ini, saya juga naik shuttle ini untuk balik dari terminal 1 ke terminal 2 nanti.

Terminal 1 ini beroperasi lebih dulu daripada terminal 2, terminal 1 ini dibuka tahun 1999 untuk mengurangi kepadatan Shanghai Hongqiao Airport, airport lain yang lebih dulu beroperasi di kota ini. Terminal 1 yang didesain oleh Paul Andreu ini berkapasitas 20 juta penumpang per tahun, kurang lebih sama kapasitasnya dengan terminal 2 Soekarno Hatta International Airpot Jakarta. Desain yang paling unik dari terminal 1 ini adalah terletak pada langit-langitnya. Langit-langit di main concourse didesain berwarna biru dengan batang-batang putih yang mengarah ke bawah. Mungkin karena warnanya yang gelap, interior main concourse ini terasa lebih sumpek dibandingkan dengan terminal 2 yang menggunakan warna-warna yang lebih terang dan bukaan kaca serta skylight yang lebih banyak.

Memang menjelajah butuh energi karena tiba-tiba terdengar orkestra di dalam perut sudah mulai main. Saya sarapan roti dulu, beli roti yang dijual di salah satu mini market di terminal 1. Tebak-tebak buah manggis aja isinya, soalnya tulisan China semua ga ada tulisan latinnya. Semacam berjudi lah, beli yang kira-kira bentuknya manis dan ga isi babi. Pas digigit untung isinya kacang merah, selamat. Untuk minum, tenang saja di sudut-sudut terminal ada dispenser air minum gratis koq, lengkap dengan gelas kertas sekali pakai. Jadi mayan lah ngirit. :p

Setelah muter-muter sampai puas di terminal 1, terminal 2, foto-foto, naik turun shuttle bus, akhirnya jam menunjukkan jam 8.30, saatnya menuju ke Maglev Station buat beli tiket menuju Longyang Rd. Station di downtown Shanghai. Cerita tentang Maglevnya di next post ya. Keep reading. Xie xie.

aryokuncoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *