Mudik Redefined

Ada yang berbeda dengan ‘ritual’ mudik tahun ini. Dari berpuluh-puluh tahun perjalanan mudik, biasanya mudik itu identik dengan satu atau kombinasi hal-hal di bawah ini:

  • Macet berjam-jam
  • Pekerjaan jalan yang belum selesai
  • Kesemrawutan lalu lintas
  • Fasilitas pendukung yang belum siap (rest area, rambu, jalur alternatif)

Tapi, dua tahun ini, khususnya tahun ini. Tampaknya pemerintah telah berhasil meredefinisi mudik dengan serangkaian strategi yang cukup komprehensif. Padahal kalo menurut data di Kompas (12/6), jumlah pemudik roda empat pada H-5 meningkat dari 60,676 mobil pada 2017 menjadi 83,516 pada 2018, lumayan kan naik 37%. Tapi jalanan ga macet dan tersendat lho. Bahkan pas puncak arus mudik. Kenapa?

Setelah melalui pengamatan dan analisis yang cukup cermat dan mendalam, ada beberapa poin yang menurut saya telah berhasil dilakukan untuk menghadapi mudik tahun ini: Libur dan cuti bersama yang panjang, dan sarana dan prasarana tol yang sudah siap walaupun belum selesai.

Untuk yang pertama, libur dan cuti bersama yang panjang ini membuat pemudik punya lebih banyak pilihan untuk melakukan mudik. Saya yang tadinya berencana mudik pada hari Minggu, akhirnya memutuskan untuk mudik pada hari Senin untuk menghindari masa puncak arus mudik. Ternyata strategi ini tepat karena prediksi pemerintan kalo puncak arus mudik terjadi pada Sabtu dan Minggu memang benar. Tapi kemacetan dan penumpukan kendaraan yang jadi ciri khas puncak arus mudik tidak terjadi. Volume kendaraan tersebar merata.

Lalu yang kedua terkait denga sarana dan prasarana tol. Jadi sekarang dari Bogor/Jakarta sampai Solo sudah tersambung dengan jalan tol, sebagian sudah jadi, sebagian masih berupa tol fungsional. Tol fungsional adalah tol yang belum selesai tapi sudah bisa difungsikan untuk lewat kendaraan, tapi dibatasi hanya roda empat. Umumnya jalan tol fungsional ini berupa jalan beton yang kiri kanannya masih konstruksi, di beberapa tempat juga ada yang jalannya masih berupa tanah yang dipadatkan. Tapi, walaupun hanya ‘darurat dan sementara’, prasarana pendukungnya sudah disiapkan dengan baik. Rambu petunjuk, batas pengaman, dan rest area sudah dipikirkan secara menyeluruh juga.

Rest area sementara yang disiapkan pemerintah ini umumnya terdiri dari mobile toilet (punyanya Kementerian PUPR), warung makan yang diusahakan warga sekitar, mini market, dan mobile SPBU (pake truk tanki dan pompa bensin portable). Pom bensin portable ini penting banget, karena namanya juga jalan tol sementara, belum ada pom bensin benerannya. Saya sempat khawatir ketika indikator bensin di dashboard menunjukkan bensin di tangki tinggal seperempat. Ga lucu kan kehabisan bensin di tengah-tengah tol antah berantah. Lalu saya menepi ke sebuah rest area darurat yang ada pom bensinnya. Hanya ada dua jenis bahan bakar yang dijual, Pertamax dan Dex. Pembelian pun dibatasi hanya 100,000 karena keterbatasan kapasitas tangki dan biar rata. Lumayan lah bisa untuk sampai ke pom bensin betulan selepas tol fungsional ini.

Jadi kesimpulannya, problematika menahun ‘ritual mudik’ ini ternyata bisa dicarikan solusinya. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, Kepolisian, Pertamina, dan kementerian lain yang terkait sangat perlu untuk diacungi jempol atas strategi yang komprehensif ini. Terutama untuk Pak Basuki Hadimuljono, panglima infrastruktur kabinet Jokowi, thank you for redefining mudik!

aryokuncoro

dari kampung mudik

P.s: jangan khawatir, Pringsewu juga hadir di beberapa rest area. Jadi, Gurame Bakar Krispy 50 Km Lagi?

One thought on “Mudik Redefined

  1. Pay

    Hahaha..Pringsewe!!!! LEGEND!!!

    Seharusnya masyarakat bisa melihat ini sih, semua stakeholder ku pikir sudah bekerja dengan sangat baik untuk tahun ini.
    Aku dari Bogor – Jombang hari H lebaran cuman 14 jam. Gila cepet banget!! Normalnya aja bisa 20jaman di hari biasa.
    Pas arus balik H+4 pulang Jombang – Bogor juga 17 jam. Cepet juga itungannya. Dan itu semua udah pake istirahat 1-2 jam. Klo nonstop ya lebih cepet lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *