Jalan Tol Trans Jawa vs Sense of Journey

Ada dua hal yang menjadi perhatian saya dengan adanya jalan tol baru ‘Trans Jawa’ yang menghubungkam Jakarta sampai Surabaya. Hal tersebut adalah bergesernya makna tempat (sense of place) dan makna perjalanan (sense of journey).

Selama ini perjalanan lintas Jawa antara Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur via Jalan Pantura pasti diidentikkan dengan kota-kota ini: Cikampek, Indramayu, Brebes, Tegal, lanjut terus hingga Kendal, Semarang, dan seterusnya. Setiap tempat yang kita lewatk tersebut, sadar atau tidak sadar telah memiliki citra tersendiri yang membedakan tempat satu denga tempat lainnya. Misalnya ketika di tepi jalan kita menemui dereta pedagang kerupuk warna-warni pasti itu ada di sekitar Indramayu, lalu jika kita melewati jalan yang memiliki kesempatan untuk mencuri pandang ke tepi laut dengan deretan perahu nelayanmaka kita sedang berada di sekitar Tegal, Alas Roban dengan ciri khas tanjakan meliuk-liuknya, sampai Salatiga dengan pemandangan aneka penjual pemancar satelit lokal (baca: wajan alias penggorengan). Unsur-unsur yang saya sebutkan sebelumnya ini telah membuat sebuah sense of place, bisa juga kita katakan sebagai bentuk placemaking, pencipta karakter tempat yang bisa membedakan antara satu tempat dengan tempat lain.

Placemaking ini penting untuk sebuah perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang panjang. Hal ini bertujuan untuk membagi segmen-segmen perjalanan menjadi bagian yang lebih pendek, lebih manageable, dan juga agar tidak membosankan. Placemaking ini membuat perjalanan lebih berarti.

Selain bergesernya sense of place, hal kedua yang akan terjadi dengan adanya jalan Tol Trans Jawa ini adalah bergesernya sense of journey. Sebelum era tol Trans Jawa, penanda kemajuan perjalanan adalah dengan kota atau tempat. Dari Jakarta kita akan melewati Cikampek, lalu Indramayu, setelah Pemalang adalah Pekalongan, sebelum masuk Semarang kita akan melewati Kendal, dan lain sebagainya. Namun, dengan adanya tol Trans Jawa nanti penanda kemajuan perjalanan akan bergeser menjadi hal lain yang mungkin lebih parametrik, misalnya nanti mungkin kita akan menyebutkan lokasi dengan Tol Palikanci kilometer 172, Tol Kanci-Pejagan kilometer 250, atau Rest Area KM 342 misalnya. Sama dengan yang terjadi di Tol Cipularang.

Buat saya yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi pengguna jalan Pantura, tidak ada yang salah dengan kedua hal yang saya sebutkan di atas. Memang harus ada yang ‘berkorban’ untuk perubahan dan juga kemajuan. Toh waktu tempuh antara Jakarta menuju kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi lebih singkat dan juga arus pergerakan barang menjadi lebih efisien. Kedua hal yang menjadi tujuan pembanguna tol ini setidaknya tercapai. Dampak ikutannya harus dilihat secara menyeluruh, sepaket dengan manfaatnya.

Kini tantangannya justru ada di tiap kota yang saya sebutkan di atas, yang selama ini kebanyakan mereka hanya berperan sebagai kota transisi. Hanya dilewati saja, syukur-syukur mampir sejenak membeli satu-dua helai Batik Trusmi di Cirebon atau membeli sebungkus telor asin di Brebes. Kota-kota tersebut harus memiliki positioning baru agar mereka menjadi tujuan (destination city) bukan hanya kota yang sekedar mampir (transit city). Perbandingan antara kedua kota ini insyaAllah akan saya bahas di tulisan lain.

Jadi, semoga dengan adanya momentum pembangunan Jalan Tol Trans Jawa ini bisa menjadi pemicu kota-kota di Pantura Jawa untuk berbenah. Kita lihat beberapa tahun ke depan, siapa yang akan survive dan semakin bersinar, namun semoga tidak sampai ada kota yang tenggelam karena Trans-Jawa Toll Effect ini.

Selamat berbenah kota-kota di Pantura!

aryokuncoro

One thought on “Jalan Tol Trans Jawa vs Sense of Journey

  1. Pay

    Perkembangan tol trans Jawa ini analogi-nya mendekati apa yang terjadi di film Cars. Ingat?
    Di film itu diceritakan bahwa Radiator Spring (cmiiw) yang dulu nya idola sebagai tempat transit menjadi sepi karena adanya pembangunan High Way. Orang-orang (lebih tepatnya mobil) lebih memilih jalan itu.

    Cirebon, Tegal, Pekalongan, Salatiga, Sragen mau tak mau memang harus berbenah. Harus punya unsur menarik sehingga orang-orang mau keluar tol untuk singgah atau berwisata.
    Bayanganku sih setidaknya ada plang di tol, misalnya dengan tulisan “Slow Down, exit Brexit untuk Telur Asin dari Surga” dan semacamnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *