Tentang Sibuk

Sering saya mendapati seorang teman yang membuka percakapan dengan pertanyaan: “Apakah sedang sibuk?”, “Lagi sibuk atau tidak?”,”Wiken ini sibuk atau tidak?, dst. Tentu maksud dari pertanyaan ini adalah si penanya berusaha mengawali perbincangan secara sopan, khawatir yang diajak bicara sedang sangat sibuk atau berada di tengah sesuatu hingga tak bisa diacak berbincang.

Namun, jika kita melihat dengan sudut pandang lain, menurut saya sibuk itu adalah soal prioritas. Ketika kita sedang sesibuk apapun, jika ada hal lain yang punya prioritas lebih tinggi tentunya kita akan menyempatkan. Sebaliknya, walaupun kita sedang tidak sibuk, jika hal lain ada yang prioritasnya tidak terlalu tinggi, maka bisa jadi kita tidak akan menaruh perhatian kepada hal tersebut.

Lalu saya teringat sebuah Puisi berjudul “Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat” yang ditulis oleh K.H. Mustofa Bisri, pada 1987. Puisi ini pertama kali saya dengar dibacakan oleh Najwa Shihab, lupa saya dalam acara apa. Isi puisinya adalah sebagai berikut:

Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat

(K.H. Mustofa Bisri)

Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau sempat memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendri?

Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja
Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau akan memuisi?

Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja

Kapan kau sampai intinya?

Kalau kau sibuk dengan intinya saja

Kapan kau memakrifati nya-nya?

Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja

Kapan kau bersatu denganNya?

Kalau kau sibuk bertanya saja

Kapan kau mendengar jawaban

Jadi, apakah kau sibuk? Kalau kau sibuk kapan kau sempat?

aryokuncoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *